Main Article Content

Dodi Rusjadi Tatang-Endi

Abstract

Pada tahun 1996, Kementerian Negara Lingkungan Hidup mengeluarkan Kepmen No 48 sebagai peraturan untuk mengendalikan kebisingan yang mengganggu kegiatan manusia dan mengancam tingkat kenyamanan dan kesehatan manusia. Tujuan makalah ini adalah untuk meninjau dan mengevaluasi metode waktu sampling yang terlampir pada Kepmen No. 48 dengan menganalisis hasil pengukuran kebisingan per jam di beberapa kota di Indonesia dan untuk mengusulkan sebuah pedoman standar pengukuran. Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan dengan dua cara, yaitu cara sederhana dan langsung. Cara sederhana dilakukan oleh 2 orang, seorang untuk melihat waktu dan memberikan aba-aba pembacaan tingkat kebisingan sesaat setiap lima detik dalam waktu pengukuran 10 menit. Orang kedua mencatat pembacaan tingkat tekanan bunyi sesaat dB(A) dari sound level meter (SLM). Cara langsung dilakukan dengan sebuah integrating sound level meter yang mempunyai fasilitas pengukuran LTM5, yaitu Leq dengan waktu ukur setiap 5 detik, dalam waktu pengukuran 10 menit. Hasil perbandingan dua kali perhitungan hasil pengukuran (pertama dengan 24 data, dan kedua dengan menggabungkan 4 data pada siang hari dengan 3 data pada malam hari) menunjukkan bahwa simpangan terbesar adalah 1,8 dB(A) dengan simpangan baku 0,8 dB(A). Nilai ini masih dalam batas toleransi yang diberikan oleh Kepmen LH No 48 yaitu sebesar 3 dB(A).

Article Details

Section
Articles